Monday, September 18, 2017
Saturday, September 9, 2017
5 Langkah Orang Tua Mendidik Anak Autis
5 Langkah Orang Tua Mendidik Anak Autis
KIM Gundih Sejaterah - Surabaya Tidak mudah membesarkan anak penyandang autisme. Pasalnya, anak autis lebih asik dengan dunianya sendiri dan lamban dalam merespon komunikasi, sehingga membuat orang tua membutuhkan kesabaran lebih.
Lusiana Handoko, orang tua dari Gevin, penyandang autis, mengaku, cukup melelahkan mengasuh anak penyandang autis. Menurutnya, orang tua harus pintar mengendalikan diri supaya dapat lebih sabar.
Pada peringatan Autism Awareness Monthbeberapa waktu lalu, ia memberi kesaksian tentang pengalamannya mengasuh dan mendidik Gevin sejak lahir sampai remaja.
Menurutnya, beberapa langkah berikut dapat dilakukan oleh orang tua untuk menghadapi anak penyandang autis.
Menerima kondisi autisme.
Menerima hal yang tak diinginkan memang tak mudah. Ini juga yang dialami oleh Lusiana Handoko saat mengetahui sang anak ternyata memiliki autisme. "Sehabis tes berupa daftar pertanyaan tentang perilaku anak, dokter saya bilang anak saya autisme. Saya tanya lalu bagaimana, sang dokter bilang saya harus menerima terlebih dahulu baru akan dijelaskan," kata Lusiana.
Lebih bersabar.
Makna penerimaan ternyata baru terasa setelah sang anak, Gevin, mulai beranjak dewasa. Lusi harus menghadapi berbagai tingkah Gevin yang kadang asik dengan dunianya sendiri. Belum lagi dengan berbagai terapi yang mesti dilakukan, semakin besar anak autis, orang tua mesti lebih bersabar. "Sebenarnya kendala yang besar itu datang dari diri sendiri. Capek memang, tapi hadapi kenyataan yang ada. Saya juga tersemangati begitu melihat ada teman yang lebih keras usahanya mengurus anak autis dibanding saya," kata Lusi.
Saling berbagi.
Saling berbagi informasi antar orang tua anak autis sangat membantu dalam menghadapi dan membesarkan anak autist. Interaksi antara orang tua dari anak penyandang autis diibaratkan sebuah sistem penyokong. Mereka saling berbagi, bukan hanya menguatkan namun juga memberikan informasi serta mencegah kesalahan yang pernah dilakukan orang lain. "Jangan malu untuk membuka diri kepada orang lain. Kesediaan untuk terbuka itu justru dapat mendatangkan berbagai info yang bisa berguna ketika mengurus anak," kata Lusi.
Pilah-pilih informasi.
Berbagai informasi tentang autisme banyak tersebar di dunia maya. Orang tua perlu memilih informasi yang positif, jangan terpengaruh mitos-mitos yang menyesatkan. Keputusan orang tua sangatlah harus dipikirkan dengan masak. "Semua informasi yang saya dapatkan saya kumpulkan dan saya pilih. Pokoknya saya mau yang logis, kisah suksesnya juga lebih banyak. Lalu saya konsultasikan lagi dengan dokter," kata Lusi.
Tidak lupa istirahat.
Menghadapi anak autis memang cukup melelahkan. Untuk itu, orang tua harus pintar-pintar juga mengendalikan diri supaya dapat lebih sabar. "Saya kalau capek ya jalan-jalan bersama teman-teman. Itu saya lakukan ketika saya tidak ingin berurusan dengan autisme dahulu. Ada juga teman saya kalau sudah capek justru ia sikat WC, karena itu metode untuk menenangkan dia," katanya. Lusi juga menyarankan agar orang tua dari anak penyandang autis mempunyai teman-teman orang tua yang non-autis, jangan orang tua dengan anak autis semuanya. “Jalan sama mereka. Jadi nanti begitu kembali ke rumah sudah segar dan bisa lebih sabar," kata Lusi. Menurutnya, kalau tidak melakukan hal itu, bisa berpotensi hilang kesabaran dan gampang stress. Kondisi seperti itu membuat rumah menjadi tidak enak yang jadinya akan berdampak ke anak.(TH)
KIM Gundih Sejaterah - Surabaya Tidak mudah membesarkan anak penyandang autisme. Pasalnya, anak autis lebih asik dengan dunianya sendiri dan lamban dalam merespon komunikasi, sehingga membuat orang tua membutuhkan kesabaran lebih.
Lusiana Handoko, orang tua dari Gevin, penyandang autis, mengaku, cukup melelahkan mengasuh anak penyandang autis. Menurutnya, orang tua harus pintar mengendalikan diri supaya dapat lebih sabar.
Pada peringatan Autism Awareness Monthbeberapa waktu lalu, ia memberi kesaksian tentang pengalamannya mengasuh dan mendidik Gevin sejak lahir sampai remaja.
Menurutnya, beberapa langkah berikut dapat dilakukan oleh orang tua untuk menghadapi anak penyandang autis.
Menerima kondisi autisme.
Menerima hal yang tak diinginkan memang tak mudah. Ini juga yang dialami oleh Lusiana Handoko saat mengetahui sang anak ternyata memiliki autisme. "Sehabis tes berupa daftar pertanyaan tentang perilaku anak, dokter saya bilang anak saya autisme. Saya tanya lalu bagaimana, sang dokter bilang saya harus menerima terlebih dahulu baru akan dijelaskan," kata Lusiana.
Lebih bersabar.
Makna penerimaan ternyata baru terasa setelah sang anak, Gevin, mulai beranjak dewasa. Lusi harus menghadapi berbagai tingkah Gevin yang kadang asik dengan dunianya sendiri. Belum lagi dengan berbagai terapi yang mesti dilakukan, semakin besar anak autis, orang tua mesti lebih bersabar. "Sebenarnya kendala yang besar itu datang dari diri sendiri. Capek memang, tapi hadapi kenyataan yang ada. Saya juga tersemangati begitu melihat ada teman yang lebih keras usahanya mengurus anak autis dibanding saya," kata Lusi.
Saling berbagi.
Saling berbagi informasi antar orang tua anak autis sangat membantu dalam menghadapi dan membesarkan anak autist. Interaksi antara orang tua dari anak penyandang autis diibaratkan sebuah sistem penyokong. Mereka saling berbagi, bukan hanya menguatkan namun juga memberikan informasi serta mencegah kesalahan yang pernah dilakukan orang lain. "Jangan malu untuk membuka diri kepada orang lain. Kesediaan untuk terbuka itu justru dapat mendatangkan berbagai info yang bisa berguna ketika mengurus anak," kata Lusi.
Pilah-pilih informasi.
Berbagai informasi tentang autisme banyak tersebar di dunia maya. Orang tua perlu memilih informasi yang positif, jangan terpengaruh mitos-mitos yang menyesatkan. Keputusan orang tua sangatlah harus dipikirkan dengan masak. "Semua informasi yang saya dapatkan saya kumpulkan dan saya pilih. Pokoknya saya mau yang logis, kisah suksesnya juga lebih banyak. Lalu saya konsultasikan lagi dengan dokter," kata Lusi.
Tidak lupa istirahat.
Menghadapi anak autis memang cukup melelahkan. Untuk itu, orang tua harus pintar-pintar juga mengendalikan diri supaya dapat lebih sabar. "Saya kalau capek ya jalan-jalan bersama teman-teman. Itu saya lakukan ketika saya tidak ingin berurusan dengan autisme dahulu. Ada juga teman saya kalau sudah capek justru ia sikat WC, karena itu metode untuk menenangkan dia," katanya. Lusi juga menyarankan agar orang tua dari anak penyandang autis mempunyai teman-teman orang tua yang non-autis, jangan orang tua dengan anak autis semuanya. “Jalan sama mereka. Jadi nanti begitu kembali ke rumah sudah segar dan bisa lebih sabar," kata Lusi. Menurutnya, kalau tidak melakukan hal itu, bisa berpotensi hilang kesabaran dan gampang stress. Kondisi seperti itu membuat rumah menjadi tidak enak yang jadinya akan berdampak ke anak.(TH)
Membaca Adalah Jantungnya Pendidikan
Membaca Adalah Jantungnya Pendidikan
KIM Gundih Sejatera
-Surabaya Orang tua adalah guru pertama bagi anak dan rumah merupakan sekolah pertama baginya. Tak salah jika membaca menjadi mata pelajaran pertama bagi anak. Karena itulah, membaca bisa dimulai dari rumah, bukan di sekolah.
Membantu anak dalam membaca merupakan tugas pertama orang tua, bukan guru di sekolah. Menurut Satria Dharma, pegiat literasi yang juga turut menggagas Gerakan Literasi Sekolah, jika setiap anak Indonesia bisa dan suka membaca, maka Indonesia akan jaya.
“Keberhasilan sebuah sekolah ditingkat dasar diukur dan dinilai dari kemampuannya membuat siswa memiliki keterampilan membaca,” tegas Satria pada acara seminarKids Fair yang diselenggarakan komunitas Gerakan Peduli ASI sekitar Tangerang Selatan di Bintaro, pekan lalu.
Membaca menurut Satria memiliki peran besar dalam pendidikan. Mengutip kata bijak dari Dr. Roger Farr, ‘Membaca Adalah jantungnya Pendidikan’, semua sepakat bahwa tanpa membaca, pendidikan akan ‘mati’.
Sementara, menurut Glenn Doman, membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Membaca adalah landasan bagi semua proses belajar.
”Anak-anak yang sudah mulai terpapar dengan banyak bacaan di rumah akan mudah memulai sekolah. Anak yang percaya diri dengan membaca akan memiliki perilaku yang positif pada belajar. Anak yang membaca bersama keluarganya akan mengembangkan kecintaan membaca yang akan berlangsung seumur hidup,” jelas Satria.
Bagaimana anak belajar membaca? Menurut Satria, anak telah siap membaca sejak ia masih bayi. Karena itulah, kebiasaan membaca tidak perlu menunggu ketika anak masuk sekolah.
Anak usia bayi hingga 3 tahun sangat suka dibacakan dan melihat buku. Mereka belajar tentang huruf melalui gambar dan lagu. Mereka mulai belajar bahwa apa yang dipikiran mereka bisa dicetak kedalam buku.
Anak usia pra sekolah mulai belajar memahami bahwa kata yang tercetak membentuk cerita. Mereka mulai memahami hubungan antara suara dan huruf.
Sementara, anak usia sekolah belajar cara mengidentifikasi kata. Mereka bisa membaca berbagai macam materi dan menebak kisah dalam cerita. Mereka bisa menghubungkan arti dari buku pada apa yang yang mereka ketahui dan lakukan.
”Setiap anak belajar sesuai kecepatannya sendiri-sendiri. Anak butuh perhatian dan dukungan penuh dari orang tua pada setiap tahapan bacanya. Karena itulah tugas orang tua untuk mendampingi,” tegas Satria.
Lalu, bagaimana membantu anak agar menjadi pembaca yang baik? Tahap pertama, terapkan harapan pada anak agar mereka tahu bahwa mereka diharapkan untuk dapat mengembangkan kemampuan membacanya dan mencapai tingkatan tertentu.
Selalu sediakan buku-buku bacaan, koran dan alat tulis seperti pensil, krayon, kertas gambar dan sebagainya.
Membacalah bersama anak setiap hari. Bacakan mereka buku-buku cerita yang menarik. Tuntun mereka untuk ikut membaca. Usahakan untuk tidak berhenti membacakan buku ketika mereka sudah bisa membaca sendiri.
Setiap Anda membaca buku, jangan lupa ceritakan juga pada ananda apa buku yang sedang Anda baca. Hal ini akan membantu anak untuk mengembangkan kosakata dan kemampuan berpikir kritisnya.
Tunjukkan bahwa membaca itu penting, karena itu, membacalah di depan mereka dan dorong anak untuk ikut membaca juga.
”Orang tua yang terlibat dalam proses belajar anaknya akan memberikan pengaruh yang positif pada keberhasilan anak mereka di sekolah,” (TH).
KIM Gundih Sejatera
-Surabaya Orang tua adalah guru pertama bagi anak dan rumah merupakan sekolah pertama baginya. Tak salah jika membaca menjadi mata pelajaran pertama bagi anak. Karena itulah, membaca bisa dimulai dari rumah, bukan di sekolah.
Membantu anak dalam membaca merupakan tugas pertama orang tua, bukan guru di sekolah. Menurut Satria Dharma, pegiat literasi yang juga turut menggagas Gerakan Literasi Sekolah, jika setiap anak Indonesia bisa dan suka membaca, maka Indonesia akan jaya.
“Keberhasilan sebuah sekolah ditingkat dasar diukur dan dinilai dari kemampuannya membuat siswa memiliki keterampilan membaca,” tegas Satria pada acara seminarKids Fair yang diselenggarakan komunitas Gerakan Peduli ASI sekitar Tangerang Selatan di Bintaro, pekan lalu.
Membaca menurut Satria memiliki peran besar dalam pendidikan. Mengutip kata bijak dari Dr. Roger Farr, ‘Membaca Adalah jantungnya Pendidikan’, semua sepakat bahwa tanpa membaca, pendidikan akan ‘mati’.
Sementara, menurut Glenn Doman, membaca merupakan salah satu fungsi yang paling penting dalam hidup. Semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Membaca adalah landasan bagi semua proses belajar.
”Anak-anak yang sudah mulai terpapar dengan banyak bacaan di rumah akan mudah memulai sekolah. Anak yang percaya diri dengan membaca akan memiliki perilaku yang positif pada belajar. Anak yang membaca bersama keluarganya akan mengembangkan kecintaan membaca yang akan berlangsung seumur hidup,” jelas Satria.
Bagaimana anak belajar membaca? Menurut Satria, anak telah siap membaca sejak ia masih bayi. Karena itulah, kebiasaan membaca tidak perlu menunggu ketika anak masuk sekolah.
Anak usia bayi hingga 3 tahun sangat suka dibacakan dan melihat buku. Mereka belajar tentang huruf melalui gambar dan lagu. Mereka mulai belajar bahwa apa yang dipikiran mereka bisa dicetak kedalam buku.
Anak usia pra sekolah mulai belajar memahami bahwa kata yang tercetak membentuk cerita. Mereka mulai memahami hubungan antara suara dan huruf.
Sementara, anak usia sekolah belajar cara mengidentifikasi kata. Mereka bisa membaca berbagai macam materi dan menebak kisah dalam cerita. Mereka bisa menghubungkan arti dari buku pada apa yang yang mereka ketahui dan lakukan.
”Setiap anak belajar sesuai kecepatannya sendiri-sendiri. Anak butuh perhatian dan dukungan penuh dari orang tua pada setiap tahapan bacanya. Karena itulah tugas orang tua untuk mendampingi,” tegas Satria.
Lalu, bagaimana membantu anak agar menjadi pembaca yang baik? Tahap pertama, terapkan harapan pada anak agar mereka tahu bahwa mereka diharapkan untuk dapat mengembangkan kemampuan membacanya dan mencapai tingkatan tertentu.
Selalu sediakan buku-buku bacaan, koran dan alat tulis seperti pensil, krayon, kertas gambar dan sebagainya.
Membacalah bersama anak setiap hari. Bacakan mereka buku-buku cerita yang menarik. Tuntun mereka untuk ikut membaca. Usahakan untuk tidak berhenti membacakan buku ketika mereka sudah bisa membaca sendiri.
Setiap Anda membaca buku, jangan lupa ceritakan juga pada ananda apa buku yang sedang Anda baca. Hal ini akan membantu anak untuk mengembangkan kosakata dan kemampuan berpikir kritisnya.
Tunjukkan bahwa membaca itu penting, karena itu, membacalah di depan mereka dan dorong anak untuk ikut membaca juga.
”Orang tua yang terlibat dalam proses belajar anaknya akan memberikan pengaruh yang positif pada keberhasilan anak mereka di sekolah,” (TH).
Thursday, July 20, 2017
Halal Bi Halal PKK Kelurahan Gundih
Halal Bi Halal 1438 H yang diselenggarakan oleh Kader PKK Kelurahan bersama Bapak Camat Bubutan sebagai Plt. Lurah Gundih.
Isi acara disamping sambutan juga ceramah agama dilanjutkan ramah tamah.
Dengan acara tersebut dapat mempersolit hubungan antara kader dengan instansi pemerintahan dalam hal ini Kelurahan.
Wednesday, July 19, 2017
RAPAT KOORDINASI
Rapat koordinasi yang dihadiri oleh : Ketua RT, RW, Tokoh Masyarakat, Kader, LPMK, Kasie Kelurahan, Puskesmas, Babinsa, Babinkamtibmas dan Camat sebagai Plt. Lurah Gundih.
Pembahasan dalam rapat koordinasi :
1. Rencana penjamuan tamu dari Korea sebanyak 50 orang yang akan melihat lingkungan di
Pembahasan dalam rapat koordinasi :
1. Rencana penjamuan tamu dari Korea sebanyak 50 orang yang akan melihat lingkungan di
Kelurahan Gundih.
2. Penyegaran koordinator organisasi dibawah kelurahan : PKK, Kader lingkungan, Karang Taruna,
Kader Toga, Kader Lansia, Kader Posyandu Balita, Kelompok Informasi Masyarakat (KIM),
dan Kelurahan Tangguh
Penyegaran Koordinator dipimpin oleh Camat Bubutan sebagai Plt. Lurah Gundih dengan
menimbang tidak adanya rangkap jabatan ketua dalam organisasi.
Subscribe to:
Posts (Atom)




















